Rabu, 09 Juni 2010

Wakil Rakyat Tidak Merakyat

“…wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat..”


Itulah sepenggal syair yang dibawakan oleh pemusik legendaris dan sangat kharismatik Indonesia, Iwan Fals. Tentu lagu tersebut tercipta bukan hanya enak didengar para penikmat musik dan penggemar beliau, melainkan dari pada juga lagu tersebut memiliki makna yang seakan turun-temurun menghiasi panggung sandiwara politik kita.


Anggota DPR RI, tentu adalah perwujudan daripada rakyat. Anggota DPR tersebut merupakan amanat serta mandataris rakyat. Mereka ditempatkan disebuah gedung parlemen dengan embel-embel jabatan terhormat untuk dapat serta merta membela dan membawa aspirasi rakyat. DPR pun dibentuk untuk menjaga keseimbangan antara antara pemerintah (eksekutif) dengan rakyat (DPR). Pemerintah sebagai pelaksana kehidupan berbangsa dan bernegara tentu harusnya mendapat pengawasan dari rakyat agar kebijakan yang ditetapkan tidak menjurus kepada sikap kediktatoran. Maka, untuk mewakili rakyat dengan jumlah yang sangat besar tersebut, dibentuklah DPR sebagai wakil rakyat.


DPR sebagai perwujudan rakyat mempunyai tugas pokok yakni Pengawasan, Legislasi, dan Anggaran. Begitu vitalnya tugas dan fungsi DPR, maka negara pun memberikan fasilitas-fasilitas yang masuk kategori mewah. Dari gaji pokok beserta tunjangannya, perumahan dinas beserta isi perabotannya, mobil dinas beserta bahan bakarnya, stelan jas nan mahal, biaya perjalanan dinas, biaya sidang, serta fasilitas-fasilitas menggiurkan yang seakan membuat jutaan rakyat negeri ini berlomba untuk menjadi wakil rakyat dan menduduki kursi empuk tersebut.


Dengan begitu banyak fasilitas golongan atas yang diberikan negara, maka setiap anggota DPR seyogyanya hanyalah berfikir mengenai rakyat dengan membuat sebuah peraturan (legislasi) dan anggaran untuk segera dilaksanakan pemerintah (eksekutif), serta juga memberikan pengawasan (monitoring) agar pelaksanaan peraturan dan anggaran yang telah ditetapkan tersebut tidak menyimpang dari koridornya. DPR tentu juga tidak perlu memikirkan kehidupan setelah habis masa jabatannya, karena setiap anggota DPR juga akan diberikan dana pensiunan yang sangat besar.


Tidak Merakyat


Syair lagu yang dibawakan oleh bang Iwan Fals dengan judul “surat buat wakil rakyat” sangatlah tepat menggambarkan bagaimana sebenarnya prilaku anggota DPR kita dalam berperan dengan dalih “memperjuangkan hak rakyat”. Bahkan, perilaku anggota dewan tersebut bukanlah untuk satu periode jabatan, melainkan hampir turun-temurun setiap periode jabatan.


Seakan tidak mempunyai rasa malu dengan keadaan rakyatnya, anggota dewan selalu beperilaku bak super star yang selalu harus dilayani bukan sebagaimana mestinya yakni melayani rakyat sebagai perwujudan atas dirinya. Anggota dewan kita memang tidaklah merakyat sebagaimana yang disyairkan oleh bang Iwan Fals. Anggota DPR tidak mempunyai kepekaan terhadap rakyat yang sebagian besar rakyatnya untuk membeli sebungkus nasi saja sangatlah sulit. Bahkan, dibawah kursi empuk saat sidang soal rakyat, anggota dewan kita malah tidur dengan sangat nyenyak dan selalu menyanyikan lagu setuju terhadap hasil apapun yang diketuk palukan oleh sang ketua sidang, padahal yang disetujui pun mereka tidak tau.


Sebahagian anggota DPR pun dihiasi oleh para artis yang kualitas dan integritasnya dalam membangun negara serta memperjuangkan ratusan juta rakyat masih dipertanyakan. Para artis sebagaimana yang kita ketahui adalah figus yang hanya hidup gemerlap tanpa peduli dengan kondisi rakyat. Hingga kini banyak artis yang duduk di parlemen masih juga tetap bekerja di bidang entertainment seperti menjadi pembawa acara ataupun menjadi juri pada sebuah acara hiburan di televisi. Lantas, dapatkah kita menerima tindakan para wakil rakyat tersebut? Wakil rakyat sebelum menduduki jabatannya, ia pastilah telah bersumpah dan bertekad untuk memperjuangkan rakyat disetiap waktu dan kesempatannya, bukan sebaliknya menjalani profesi ke-artisan dengan tetap ingin menjaga popularitas dan mendapatkan penghasilan berlimpah seperti yang selalu diperankan oleh para artis yang duduk di gedung rakyat. Hal itu tentu menambah imej, bahwa wakil rakyat memang tidaklah merakyat sebagaimana yang dinyanyikan oleh bang Iwan Fals.


Pengkhianatan Terhadap Rakyat


Untuk yang kesekian kalinya anggota DPR mengkhianati rakyatnya, melukai rakyatnya, dan seakan bersenang diatas penderitaan rakyatnya. Mengapa tidak, lagi-lagi anggota DPR merampok uang rakyat untuk mengenyangkan perut mereka. Meski sudah lama dikritik gemar menghamburkan uang rakyat, anggota DPR tidak juga berubah. Di tengah jeritan atas penderitaan rakyat, anggota DPR masih membuat rencana merealisasikan dana aspirasi Rp15 miliar per daerah pemilihan (Dapil).


Usulan itu tentu saja dapat memboroskan anggaran negara sebesar Rp8,4 triliun. Menurut Todung Mulya Lubis, ada banyak alasan mengapa keinginan DPR mendapat dana aspirasi sebesar Rp 15 miliar wajib ditolak. Salah satunya adalah soal fungsi DPR sebagai badan legislasi. Sebagai badan pembuat UU, banyak RUU yang justru mandek di tengah jalan. Fungsi legislasi ini saja sudah gagal dilaksanakan dengan sempurna oleh DPR. Selain itu, dana yang jika ditotal untuk 560 anggota DPR mencapai Rp 8,4 triliun itu juga dianggap melanggar sejumlah aturan. Mulai dari UU No 17 Tahun 2003, UU No 1 Tahun 2004, UU No 32 Tahun 2004, UU NO 15 Tahun 2004, UU No 33 Tahun 2004, hingga UU No 27 Tahun 2009. "Keenam UU itu menegaskan bahwa lembaga legislatif adalah pengguna anggaran dan bukan pengelola keuangan negara. (DetikNews.com)


Belum genap setahun, anggota DPR sudah menghabiskan Rp 10,06 triliun uang APBN. Uang sebesar itu dengan catatan dana aspirasi jadi dikeluarkan. Kurun waktu yang digunakan sejak September 2009-Juni 2010. Untuk pelantikan DPR, negara sudah mengeluarkan uang Rp 28,5 miliar. Renovasi rumah jabatan anggota dewan di DPR menghabiskan Rp 300 miliar. Belum lagi jatah tinggal sementara anggota Dewan hingga rumahnya selesai yang mencapai Rp 84 miliar. Ada juga pengadaan komputer 687 unit sebesar Rp 11,03 miliar. Bantuan untuk parpol sebesar Rp 8,6 miliar. Gaji dan tunjangan DPR, belum termasuk gaji ke-13 serta fasilitas penunjang lainnya, mencapai Rp 31,024 miliar. DPR sendiri juga sudah merencanakan renovasi gedung mereka yang katanya miring sebesar Rp 1,2 triliun. Dan yang paling baru, dana aspirasi yang jika ditotal mencapai Rp 8,4 triliun.


Dalam APBN-P 2010, anggaran fasilitas bagi anggota DPR meningkat tajam. Tidak hanya dana sebagaimana yang disebutkan diatas, melainkan juga anggota DPR juga mendapat berbagai fasilitas mulai dari biaya kesehatan, akomodasi, fasilitas kredit kendaraan, asuransi kecelakaan, dan biaya pelesiran ke luar negeri. Biaya kunjungan anggota dewan ke luar negeri untuk pembahasan 13 RUU, dalam APBN-P 2010 dianggarkan Rp44,63 miliar. Jumlah itu naik lebih 100% jika dibandingkan dengan alokasi pos yang sama dalam APBN 2010 sebesar Rp21,4 miliar.


Peneliti Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam memerinci biaya kesehatan anggota DPR dialokasikan sebesar Rp36,9 miliar. Itu berarti setiap anggota dewan mendapat fasilitas tersebut senilai Rp66 juta per tahun. Anggaran akomodasi sebesar Rp93,4 miliar. Dengan demikian setiap anggota dewan mendapat Rp.l67 juta per tahun. Selain mendapat fasilitas-fasilitas tersebut, anggota dewan mendapat honor dari rapat-rapat komisi dan kunjungan kerja baik di dalam maupun luar negeri. Pertambahan anggaran terbesar terjadi di Komisi VII dari Rp7,9 miliar menjadi Rp31,8 miliar. Fasilitas kredit kendaraan pribadi anggota DPR dalam APBN-P 2010 dianggarkan sebesar Rp86,3 miliar. Jumlah itu naik dari alokasi dalam APBN 2010 sebesar Rp33,5 miliar.


Melihat besarnya dana alokasi yang diperuntukkan untuk kepentingan anggota DPR tersebut, kini pantaskah kita menilai bahwa anggota DPR adalah wakil rakyat dan berperan untuk memperjuangkan rakyat?. Padahal, apabila kita melihat kenyataan, anggaran pendidikan, kesehatan, sosial, serta anggaran kesejahteraan rakyat lainnya masihlah tergolong kecil untuk dialokasikan kepada rakyat yang benar-benar membutuhkannya.

Minggu, 06 Juni 2010

Menggugat Pajak Reklame Kota Medan

Salah satu problematika kota Medan yang tidak kunjung usai dalam menuju kota Metropolitan yakni semakin menjamurnya papan reklame. Papan reklame yang terdiri dari billboard, spanduk, baliho, maupun jenis papan iklan raksasa yang memasarkan sebuah produk kini semakin tidak terurus dengan semberawutnya kota Medan bak kota besar yang tidak memiliki pemerintahan. Tidak hanya itu, papan reklame yang telah membuat kota ini semakin sumpek, juga telah menganggu estetika kota serta dapat membahayakan keselamatan bagi penduduk kota Medan.


Ada apa dengan pemerintahan kota Medan? Meskipun tambuk kepemimpinan kota ini silih berganti, akan tetapi problematika papan reklame dalam menata estetika kota dan memperhatikan keselamatan penduduk kota seakan tidak terealisasi. Mengapa pemimpin kota ini mengorbankan penduduk kota demi untuk mengejar Pendapan Asli Daerah (PAD) berupa pajak dan retribusi reklame?


Lantas, apakah dengan menjamurnya reklame tersebut otomatis juga akan mendongkrak PAD kota Medan? Apabila kita perhatikan banyak reklame yang tidak mendapatkan izin dan yang berizin pun telah habis masa izinnya. Sebenarnya lebih disayangkan lagi semakin menjamurnya papan-papan reklame tersebut tidak berbanding lurus dengan PAD yang masuk. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan Tahun 2008, Dinas Pertamanan hanya ditargetkan memperoleh PAD dari sektor ini Rp13 miliar.


Meskipun katanya over target, paling maksimal mencapai Rp 20 miliar, itupun kalau tercapai. Bandingkan dengan Surabaya dari sektor ini pada tahun 2006 mereka sudah meraih PAD Rp 40 miliar. Bahkan, Tahun 2007 meningkat menjadi Rp 44 miliar dan tahun lalu menjadi Rp 47 miliar. Padahal Kota Pahlawan ini jumlah papan reklamenya secara kuantitas tidaklah sebanyak di kota Medan dan lebih tertata dengan memperhatikan estetika kota dan juga keselamatan penduduknya.


Menggugat Pajak Reklame


Dengan begitu menjamurnya papan reklame dan seakan lebih mengutamakan dalam mengejar PAD kota Medan, kita tentu bertanya-tanya apakah antara pejabat Pemko dalam hal ini yang berwenang dalam menata dan memungut pajak papan reklame Dinas Pertamanan Kota Medan dengan pengusaha advertising ada “permainan”?


Setidaknya dugaan adanya “permainan” antara pejabat Pemko Medan dengan pengusaha advertising tersebut mendekati kenyataan dengan melihat hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sekitar 121 perusahaan reklame diduga tidak membayar pajak dan retribusi kepada Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pertamanan Kota Medan, sejak tahun 2006-2009 yang telah menimbulkan kerugian negara Rp.18 miliar lebih. (Harian Analisa, 02/06/10). Bahkan tidak hanya itu, dalam pemberitaan harian tersebut juga menyatakan bahwa ratusan reklame dalam berbagai ukuran yang memenuhi Kota Medan, diduga tidak memberikan kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini kuat dugaan kita adanya penyimpangan ke kantong pejabat terkait dengan jumlah yang sangat besar tersebut.


Meskipun penyelewengan pajak reklame kota Medan masih dalam penelitian Tim Penyelidikan Pidana Khusus (Pidsus) Kejatisu, tentu kita selalu penduduk kota ini memandang sinis antara pejabat Pemko Medan dan juga para pengusaha advertising. Sebab, selain telah menindas rakyat dengan semberawutnya kota dan tidak memikirkan keselamatan jiwa para pengendara lalu lintas serta warga sekitar, tindakan pejabat Pemko Medan juga telah mencederai rasa kepercayaan dan mengkhianati masyarakat kota Medan dengan melakukan “permainan” kotor dengan para pengusaha advertising tersebut.


Sebagai penduduk kota Medan, kita tentunya telah muak dengan apa yang telah dilakukan pemerintah kota ini dalam menata kota Medan menjadi kota Metropolitan. Berbagai problematika seperti masalah drainase yang tidak kunjung usai dan semakin memperluas kebanjiran, masalah kemacetan yang kian parah, dan juga tentu saja masalah penataan reklame yang seakan tidak memikirkan jiwa keselamatan penduduk dengan membiarkan papan reklame ukuran raksasa terpampang di tengah badan jalan.


Ironisnya, meskipun Pemko Medan telah tertutup telinga dalam mendengarkan jeritan rakyat terhadap papan reklame yang seakan siap kapan saja memakan korban demi untuk mengejar PAD kota Medan, malah pajak reklame pun yang seharusnya masuk dalam PAD juga disikat melalui “permainan” dengan pengusaha advertising. Bukankah pajak reklame yang seharusnya masuk dalam PAD tersebut juga merupakan uang rakyat?


Kerugian negara dan tentunya juga kerugian rakyat terhadap penyelewengan pajak reklame tersebut bukanlah nominal yang kecil. Apabila hasil kerugian tersebut diperuntukkan untuk pembiayaan pendidikan, kesehatan, pemberian bantuan kredit terhadap UKM, serta berbagai program kesejahteraan rakyat, maka sangatlah besar dampak yang ditimbulkan secara langsung untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di negeri ini. Rakyat kini tidaklah diam mengetahui haknya “dirampok” orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Maka, rakyat dapat menggugat hak mereka tersebut dengan terus mendesak aparat penegak hukum untuk lebih mendalami dan mengusut kasus yang telah menghambat kesejahteraan rakyat tersebut.


Rakyat dalam menggugat penyelewengan pajak reklame tidaklah hanya memantau serta mendesak aparat penegak hukum untuk menyeret para perampok hak rakyat tersebut. Akan tetapi, lebih jauh juga apabila pihak terkait tidak dapat bertindak, maka rakyat tentunya akan menggugat bersama-sama pihak kepemudaan dan lembaga masyarakat lainnya untuk melakuan pembongkaran secara paksa papan-papan reklame yang menunggak pajak serta papan reklame yang tidak sesuai dengan estetika kota Medan dan keselamatan jiwa penduduk kota Medan. Selain itu, pejabat di Dinas Pertamanan kota Medan yang seyogyanya bertanggungjawab secara langsung haruslah melakukan blacklist terhadap perusahaan advertising yang menunggak dan juga memberikan sanksi secara tegas serta lebih tepatnya dapat juga memberikan efek jera kepada para pengusaha advertising untuk tidak menyengsarakan rakyat dengan menunggak pajak reklame.


Peranan Walikota Terpilih


Sebentar lagi kota Medan akan segera memiliki walikota untuk yang kedua kalinya sebagai walikota pilihan penduduk kota Medan melalui jalur demokrasi. Dengan adanya pemerintahan baru tersebut, tentu siapa pun walikota yang akan terpilih mendatang, kita berharap adanya peranan yang nyata terhadap perubahan kota ini terutama penanganan papan reklame.


Hingga kini papan reklame sangatlah tidak bersahabat dengan penduduk kota Medan. Papan reklame yang berdiri di tengah-tengah badan jalan dapatlah mengganggu penglihatan para pengendara lalulintas. Bahkan tidak sedikit juga papan reklame berdiri dengan ukuran raksasa tepat diatas trotoar yang seyogyanya merupakan hak para pejalan kaki. Papan reklame yang telah tumbuh subur di kota Medan sangatlah lebih besar dampak kerugiannya dibandingkan dengan keuntungannya. Kita banyak melihat korban-korban yang telah tewas dan cedera akibat papan reklame, baik karena tumbang tertiup angin kencang saat tujun hujan, maupun karena mengganggu penglihatan pengendara lalulintas.


Apakah dengan banyaknya korban akibat tidak tertatanya papan reklame dan juga puluhan miliar rupiah tunggakan pajak papan reklame tidak cukup bukti menyadarkan para pemimpin kota ini khususnya bagi pemerintahan baru mendatang untuk lebih serius menangani masalah papan reklame? Maka, dengan adanya walikota terpilih mendatang, kita pun dapat berharap banyak agar papan reklame dapat diatur sesuai dengan estetika kota, keselamatan pengendara lalulintas, dan juga dapat meraup pemasukkan berupa pajak dan retribusi papan reklame ke dalam PAD agar keindahan kota Medan serta kesejahteraan penduduknya dapat terealisasi dalam menuju kota Medan sebagai kota Metropolitan. Semoga..!!!



Sabtu, 15 Mei 2010

Bersahabat dengan Buku

Buku, rasanya tidak ada satu orang pun yang tidak mengenal barang yang satu ini. Buku adalah jendela dunia, barangkali istilah ini juga tidak ada yang bisa menyangkalnya. Dengan buku, seseorang dapat membangun peradaban, mengembangkan teknologi muktahir, dan tentu saja dapat membangun sebuah negara diikuti dengan warganya yang mempunyai sumber daya manusia berkualitas. Oleh karenanya, dengan buku lah dunia yang telah kita nikmati hingga kini masih dapat menghidupi sinarnya dengan berbagai perkembangan pesat teknologi dan informasi.


Tidak dapat kita pungkiri bahwa seseorang untuk menjadi pintar dan cerdas tidak terlepas dari perannya buku. Siapa yang tidak mengenai Bill Gate, seorang pencetus teknologi modern dengan mendirikan perusahaan kelas dunia yang sangat disegani yakni Microsoft Corp. Bill Gate telah banyak berperan dalam memudahkan segala perkerjaan yang dilakukan manusia. Dengan kepintarannya di bidang matematika, ia lantas bersama teman kuliahnya Paul Allen, membuat program Microsoft. Hampir seluruh perkantoran di penjuru dunia mengunakan Microsoft sebagai perangkat lunak pendukung fasilitas kantornya.


Dengan perannya tersebut, maka ia pun lantas dinobatkan dalam beberapa tahun silam sebagai manusia terkaya di dunia. Apa yang membuat seorang Bill Gate menjadi besar dan dipuja dunia ? Tentu saja jawabannya adalah buku. Hal ini dikarenakan Bill Gate adalah pencinta buku sejati. Dengan bukulah ia dapat mendirikan perusahaan yang sangat prestesius dan menjadikan ia orang sebagai terkaya dunia dalam beberapa tahun. Bahkan, dengan kecintaannya terhadap buku hingga kini ia masih meluangkan waktu untuk membaca buku meskipun dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk dapat membaca buku.


Sungguh luar biasa dengan kehadiran buku. Ia dapat menghipnotis siapa pun dengan berbagai topik bacaan dan hasil hipnotisnya tersebut pun dapat membuahkan sebuah prestasi cemerlang. Buku dapat dikatakan sebagai magnet kehidupan, selagi buku masih dapat kita genggam, maka kehidupan pun dapat kita raih.


Penulis hingga kini masih teringat, saat penulis mengantarkan seorang teman yang hendak pengadu nasib di negeri jiran Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Saat itu pemilik perusahaan perkebunan terbesar di Malaysia tempat teman penulis bakal bekerja, berceramah. Salah satu ucapan pembukaan yang bakal penulis ingat sepanjang hidup adalah ia melontarkan “bahwa saya sama saudara (TKI) adalah sama, akan tetapi yang membedakan saya dengan saudara adalah karena saya rajin membaca buku”. Sungguh pernyataan yang menyejukan dari seorang pemilik perusahaan perkebunan dengan memiliki tenaga kerja lebih kurang 20.000 orang.


Lain halnya dengan Yusuf Kalla saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden R.I. Beliau dalam berbagai kesempatan mengunjungi salah satu sekolah dasar di Jakarta. Sebagaimana yang kita ketahui, Yusuf Kalla adalah anak bangsa yang cerdas, Saudagar kaya asal Makasar, dan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan di negeri pertiwi. Saat itu beliau bersanda gurau dengan murid-murid SD.


Di tengah-tengah senda gurau tersebut, tiba-tiba ada seorang murid yang bertanya dengan beliau. Ia dengan wajah polosnya mengatakan “Bapak, saya ingin seperti bapak apa sih rahasianya”. Sontan saya Yusuf Kalla pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos dari seorang anak tersebut. Lalu, beliau dengan nada serius menjawab “satu yang membuat saya jadi sekarang ini adalah banyak membaca buku, itulah rahasianya”. Dapat dikatakan, bahwa banyak para pemimpin serta orang sukses lainnya dalam kehidupan tidaklah terlepas dari perannya selalu meluangkan waktu untuk membaca buku.


Meningkatkan Kualitas Diri


Belajarlah dengan membaca buku. Itulah pesan para pendidik yang selalu penulis ingat sejak kali pertama menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Meskipun kehadiran dunia maya saat ini dalam memberikan dunia informasi semakin hari semakin canggih, akan tetapi peran buku tidaklah dapat digantikan sampai kapan pun. Karena buku dapat memberikan data secara terperinci dilengkapi dengan sumber yang dapat dipertangungjawabkan. Hal ini tentu berbeda dengan dunia maya, sebagaimana yang kita ketahui bahwa mesin pencari data seperti google atau yahoo sangatlah popular dan sangat mudah penggunaanya, akan tetapi data yang kita dapatkan tidaklah selalu dapat dikatakan akurat dengan sumber yang tentu tidak dapat dipertangungjawabkan.


Buku dapat meningkatkan kualitas dalam diri kita. Karenanya, usahakan membaca buku dalam bidang kita paling sedikit 30 menit sampai 60 menit tiap hari. Membaca bagi otak adalah olah raga bagi tubuh. Selama satu jam setiap hari akan menjadi satu buku per minggu. Satu buku per minggu akan menjadi 50 buku pertahun. Lima puluh buku akan menjadi 500 buku dalam 10 tahun yang akan datang.


Karena rata-rata orang dewasa membaca buku dari satu buku pertahun, ketika kita mulai membaca satu jam per hari, atau satu buku per minggu, akan memberi kita keunggulan yang luar biasa di bidang kita. Kita akan menjadi salah satu orang paling cerdas, paling kompeten, dan dibayar paling mahal diprofesi kita hanya dengan membaca buku selama sejam setiap hari.


Tidaklah dapat kita pungkiri bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan kehadiran buku maka kita pun dapat menemukan dan mengenal bangsa dan negara-negara di penjuru dunia. Bahkan oleh peran buku lah kita dapat mengenal para tokoh-tokoh dunia yang telah beribu tahun wafat. Sungguh suatu hal yang mustahil bila tidak ada buku karena kita tidak mungkin bisa mengenal seseorang tokoh dan mempelajari pemikirannya yang telah lebih dahulu wafat beribu tahun lamanya.


Bersahabat dengan Buku


Siapakah sahabat yang paling setia mendampingimu baik dalam keadaan suka maupun duka? Mungkin tidaklah terlalu banyak menemukan sahabat sejati sepanjang hidup kita. Karena kebanyakan teman yang kita kenal hanyalah teman yang hanya dapat bersenang ria bersama kita, akan tetapi dalam keadaan duka, sedikitlah yang mau mendampingi dan bersama kita untuk dapat merasakan duka. Lantas siapakah teman sahabat sejati kita? Tentu saja buku. Buku dapat menjadi sahabat kita yang paling setia, tidak kenal tempat, ruang dan waktu.


Buku dapat menjadi sahabat kita karena buku juga tidaklah mengenal apakah ia kaya atau miskin, tua atau muda, laki atau perempuan, ataupun juga tidaklah mengenal apakah ia seorang pejabat atau sebagai rakyat biasa. Hal inilah yang tidak didapatkan oleh sahabat-sahabat lain yang kita kenal, karena dalam menjadikan kita sahabat tentu banyak pertimbangannya.


Sebagai sahabat sejati, buku dapat menemani kita dimanapun, baik saat kita sedang menuju tempat kerja di angkutan umum, saat kita makan, saat kita hendak tidur, saat kita santai, ataupun maaf saat kita buang hajat. Sungguh mengasyikan hidup bersama buku. Dengan buku juga kita dapat menghidupkan semangat yang telah layu, membangun kepercayaan diri yang telah rontok, atau juga dapat membantu antar sesama untuk memberikan solusi dalam berbagai persoalan kehidupan.


Buku tentulah dapat memberikan kita kehidupan yang lebih baik, bermakna, serta bermanfaat antar sesama. Akan tetapi, perlulah digaris bawahi bahwa tidaklah semua buku dapat memberikan kemanfaatan yang besar kepada kita. Sebab, seseorang dalam sepuluh tahun mendatang hidupnya akan berbeda, salah satunya adalah buku yang ia baca. Buku memang dapat memberikan kita semangat hidup, lebih cerdas, dan mensyukuri hidup. Tapi hal ini tidaklah untuk buku-buku yang kurang bermakna dan bermanfaat, salah satunya adalah komik atau buku-buku sejenis yang hanya dapat memberikan kesenangan sesaat tanpa memberi manfaat lebih dalam kualitas hidup kita.


Sebagaimana halnya kata pepatah yakni sahabat dapat membawa kita ke puncak kesuksesan atau juga dapat menjerumuskan kita ke lembah kegagalan. Oleh karenanya, buku jugalah demikian. Buku yang kita baca apakah dapat memberikan manfaat dengan meningkatkan kualitas diri kita atau tidak. Maka, carilah dan bacalah buku-buku yang dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik, serta dapat membawa peran kita di masyarakat.