Kamis, 15 Oktober 2009

Menanti Sikap Politik PDI-P : Koalisi atau Oposisi?

Oleh: Andryan, SH

Desas-desus mengenai arah politik yang akan ditempuh partai nan sarat dengan kata lantang yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) masih menimbulkan pertanyaan besar baik oleh para kader/simpatisan maupun para seterunya. Apakah partai berlambang moncong putih itu akan meneruskan sikap lantangnya terhadap kebijakan oleh pemerintah atau malah mendukung penuh arah kebijakan pemerintah tersebut, inilah nuansa politik yang kian hari kian panas guna mencapai tambuk kekuasaan belaka.


Sebelumnya banyak kalangan yang menilai bahwa sejak kekalahan PDI-P baik pada pemilu legislatif maupun pemilu presiden silam, akan dapat memecah belah partai titisan Megawati Soekarnoputri tersebut. Kemudian para pimpinan internal partai juga banyak yang menilai telah jenuh untuk terus ber-oposisi dan mereka ingin ada kadernya duduk di kursi kabinet pemerintah kelak. Malahan isu-isu yang bekembang hangat belakang ini juga telah memberitakan sekjen PDI-P Pramono Anung akan di rekrut oleh Presiden terpilih Soesilo Bambang Yudhoyono untuk mengisi pos kabinetnya kelak.


Sangat disayangkan apabila kelak haluan politik PDI-P menjalin koalisi dengan pemerintah, sebab sebelumnya banyak partai politik telah menjalin koalisi dengan pemerintah. Bahkan, partai berlambang pohon beringin Golkar telah menyatakan dengan tegas akan mendukung penuh pelaksanaan kebijakan pemerintah mendatang. Lantas, jika semua partai politik termasuk juga PDI-P ber-koalisi dengan pemerintah, siapakah yang akan mengontrol setiap kebijakan pemerintah? Memang dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia peran sebagai pengontrol atau mengawas setiap langkah kebijakan pemerintah/eksekutif ada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tapi, apakah ke depannya fungsi DPR sebagai controlling dapat berjalan efektif? Hal ini mengingat kurang lebih 80% kursi di anggota dewan lebih berpijak terhadap pemerintah yang notabene telah menjalin koalisi besar.


Sudah bukan rahasia lagi bahwa PDI-P dikenal sangat lantang dan anti pemerintah yang merupakan seteru abadinya di bawah panji Partai Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Awal perseteruan antara PDI-P dengan Partai Demokrat kian memanas sejak SBY keluar dari kabinet Megawati sebagai Menko Polhukam yang kemudian akhirnya SBY mencalonkan diri sebagai calon presiden pada tahun 2004 silam. Sejak saat itu antara hubungan Megawati dengan SBY berbalik seratus delapan puluh derajat hingga keduanya jarang terlibat pembicaraan bahkan ketika keduanya berjabat tangan pun pada pemilu presiden 2009 masih menunjukkan sikap dingin antara keduanya. Celakanya, meskipun dalam suatu forum terlihat dingin, tapi di belakang forum antara keduanya saling menjatuhkan dan membunuh karakter satu sama lainnya. Hal inilah yang semakin memperuncing hubungan politik antar elit tersebut.


Perseteruan antara SBY tidak hanya pada ketua umum PDI-P, Megawati saja. Melainkan juga sikap dewan pertimbangan partai yang merupakan suami Megawati, Taufik Kiemas juga tidaklah dikatakan bersahabat. Pada saat SBY keluar dari kabinet Megawati tersebut, Taufik Kiemas secara mengejutkan mengkritik SBY dengan menyebutkan bahwa “SBY adalah Jenderal yang kekanak-kanakan”. Untung saja SBY ketika itu tidak menunjukkan respon terhadap kritikan Taufik Kiemas, yang mana sikap diam SBY tersebut membawanya popular dengan merebut hati jutaan rakyat Indonesia dan SBY pun memenangkan pemilu presiden 2004 dan berhak mengukir sejarah dengan mencatatkan tinda emas sebagai pemimpin pilihan rakyat pertama secara langsung. Kemenangan SBY pada pemilu 2004 tentu saja membuat lawan politik SBY menjadi semakin memanas, terutama Megawati yang pada sebelumnya “sakit hati” akibat ulah SBY.


Pada awal kepemimpinan SBY sejak terpilihnya ia sebagai presiden secara langsung oleh rakyat tahun 2004, sangat diwarnai oleh banjirnya kritikan pedas oleh seterunya. Meskipun Megawati yang terlebih dahulu dikenal bersikap dingin terhadap SBY tetapi ia tidaklah segencar Amien Rais dalam memberikan kritik terhadap arah kebijakan pemerintahan SBY. Amien Rais yang juga lawan politik SBY ketika berhadapan pada Pilpres 2004, sangat bertentangan arus dengan kebijakan SBY. Padahal pada putaran kedua Pilpres tersebut, partai besutan Amin Rais yakni Partai Amanat Nasional (PAN) telah menjalin koalisi dengan partai Demokrat besutan SBY. Pada formasi kabinet SBY pun banyak kader PAN mengisi pos sebagai anggota dewan Menteri, tapi sikap Amien Rais yang kontra dengan pemerintah cukup diacungi jempol. Hal ini tentu saja agar pemerintah dalam membuat kebijakannya selalu berpijak terhadap keadilan dan kesejahteraan rakyat.


Tapi, sejak kritikan Amin Rais terhadap SBY yang mengatakan ia menerima kucuran dana kampanye dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sungguh di luar dugaan. SBY sangat marah mendapatkan kritikan yang mana ia menyebutnya sebagai perbuatan “fitnah”. Untuk itu SBY pun mengadakan konferensi pers secara langsung untuk menjawab fitnah yang dilayangkan kepadanya. Lalu, SBY mengadakan pertemuan tertutup dengan Amien Rais yang menurut info saat itu pertemuan itu bermaksud untuk menjalin silatuhrahmi antar kedua elit politik tersebut. Pertemuan antara SBY dengan Amien Rais tidaklah berlangsung lama hanya kurang lebih 10 menit. Tapi, sejak pertemuan itu sikap Amien Rais berubah seratus delapan puluh derajat. Amien Rais tidak pernah lagi mengeluarkan kritikan terhadap kebijakan pemerintahan SBY hingga saat ini. Tentu saja kita bertanya-tanya ada apa dengan pertemuan singkat tersebut?.


Pada saat pemilu 2009, Amien Rais tidak mencalonkan diri sebagai Presiden tapi ia malahan mendukung SBY untuk maju sebagai calon Presiden incumbent. Untuk itu ia merekomendasikan agar PAN dapat menjalin koalisi dengan partai Demokrat. Padahal ketua umum PAN Soetrisno Bahir ingin mencalonkan diri sebagai calon presiden ketika itu. Hal ini tentu saja membuat hubungan Amen Rais dengan Soetrisno Bahir agak renggang dengan berbeda haluan.


Lawan jadi Kawan?


Seperti halnya nuansa politik yang selalu memainkan peran memanas untuk mencapai tambuk kekuasaan. Politik yang di perankan oleh para elit pun selalu tidak dapat di prediksi. Politik selalu mempunyai kata serapah yakni “kawan bisa jadi lawan dan lawan pun bisa menjadi kawan”. Kata tersebut selalu dapat menjadi kenyataan dalam berpolitik. Amein Rais yang dahulunya merupakan lawan politik SBY hingga kini berubah haluan menjadi kawan SBY dengan memberikan dukungan kepadanya. Lalu setelah Amien Rais, kini nampaknya lawan politik SBY yang diproyeksikan akan dapat menjadi kawan yakni penasihat PDI-P Taufiq Kiemas yang juga merupakan suami dari mantan Presiden ke- 5 R.I. Megawati Soekarnoputri.


Taufik Kiemas yang dahulu pernah mengejek SBY dengan mengatakan “SBY adalah Jenderal kekanak-kanakan”, kini seakan telah meninggalkan ucapannya dan segera menjadi mitra SBY. Bahkan, Taufiq Kiemas pun telah mendatangi kediaman SBY di Ciekeas guna memberikan undangan pada pelantikan Presiden terpilih 2009. Pada kesempatan itu juga Taufiq Kiemas meyakinkan SBY bahwa Megawati akan dijadwalkan untuk menghadiri acara pelantikkan tersebut. Jikalau Megawati datang pada pelantikkan SBY kelak tentu saja ini sangat menarik, sebab telah satu periode SBY menjabat sebagai Presiden R.I. baik pada acara kenegaraan maupun acara resmi lainnya, Megawati tidak menampakkan dirinya hadir pada acara resmi kenegaraan meskipun ia telah diundang. Apakah jikalau dengan hadirnya Megawati pada pelantikan SBY kelak akan menjawab pertanyaan publik bahwa kubu PDI-P telah menjadin koalisi dengan pemerintah?.


Kita sebagai bangsa yang telah menerapkan Negara kesatuan sebagai sistem Negara tentu sangat senang apabila elit politik yang sebelumnya menjadi lawan kini dapat menjadi kawan dalam membangun dan menjalankan pemerintahan negara. Akan tetapi, apabila tidak adanya partai oposisi di tambah lagi anngota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berlabuh mendukung pemerintahan, apakah sesuai dengan sistem presidensial yang kita anut. Yang mana pada sistem tersebut, pengawasan terhadap jalannya pemerintahan dilakukan oleh DPR maupun partai oposisi. Semoga sikap PDI-P yang berhaluan keras terhadap pemerintah dapat dipertahankan guna efektifnya tugas dan fungsi pemerintah kelak.


Minggu, 20 September 2009

Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H: Kembali Suci Pasca Berpuasa

Oleh: Andryan, SH


Setelah lebih kurang sebulan penuh kita selaku umat muslim berjuang untuk menunaikan salah satu perintah dan rukun islam yakni berpuasa di bulan suci Ramadhan, kini saatnya kita menyambut hari yang sangat fitrah di hari raya Idul Fitri. Kita patut bergembira dan terharu sebab hampir sebulan penuh kita berjuang menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghalangi kita untuk berserah dan bertakwa kepada sang Khalik.


Seperti yang telah menjadi budaya tahunan, setiap hari Raya Idul Fitri tiba bahkan beberapa hari menjelang hari kemenangan, masyarakat Indonesia yang notabene adalah umat muslim terbesar di dunia larut dalam menyambut hari Raya Idul Fitri seperti pulang kampung dari tempat perantauan atau istilah kerennya mudik untuk berlebaran bersama sanak keluarga. Kemudian bagi kalangan anak-anak atau remaja menjelang lebaran juga sibuk mencari pakaian baru seperti baju, celana, jaket, sepatu/sendal dan sebagainya. Mereka tentu ingin serba baru dan larut dalam kegembiraan di hari kemenangan tiba. Bagi kalangan ibu-ibu dan anak gadis perempuan, pada saat lebaran tiba hal yang paling dinantikan tentu saja jamuan makanan dan kue-kue lebaran dengan berbagai aneka ragam model dan rasanya. Sedangkan bagi kalangan bapak-bapak, lebaran adalah saat yang tepat dimana anak-anak mereka telah menunggu kehadiran untuk membagikan uang THR atau salam tempel. Begitulah rutinitas di hari raya Idul Fitri setiap tahunnya.


Akan tetapi, di saat kita merayakan dengan suka cita di lebaran tiba, tentu ada beberapa orang-orang di sekitar kita yang tidak dapat merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita alami, seperti telah ditinggal oleh sanak keluarganya yang bersama mereka pada lebaran sebelumnya. Ada juga umat muslim yang pada lebaran tiba tapi ia merasakan seperti hari-hari lainnya dan tidak ada perbedaan signifikan, sebab pada lebaran tiba ia tidak merasakan seperti yang umat lainnya dengan berpakaian baru, masakan yang lezat, dan berkumpul dengan sanak keluarga dengan hawa yang tentunya sangat berbahagia. Mereka tentu saja kurang beruntung dibandingkan dengan umat yang lainnya, hal inilah yang menjadi perhatian kita bersama dengan memberikan sedikit rezeki yang Allah berikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukankah lebaran adalah hari Raya kebersamaan umat islam? Mengapa kita tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan umat yang kurang beruntung tersebut?.


Makna Idul Fitri


Apabila kita telusuri lebih dalam, bahwa hari raya Idul Fitri bukanlah bagi mereka yang memiliki pakaian baru, masakan dengan beraneka ragam nan lezat serta memberikan uang saku kepada sanak keluarga. Sebab, makna Idul fitri adalah kembali ke fitrah atau kesucian diri, seperti halnya kita baru dilahirkan ke muka bumi. Selama sebelas bulan kita tidak bisa lepas dari dosa yang telah mengotori jiwa kita, maka pada saat hari raya Idul Fitri adalah hal yang tepat untuk kita agar dapat kembali mencapai kesucian diri.


Abu Hurairah ra. Menceritakan, Rasulullah Saw. Bersabda, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya ia akan mendapat ampunan dari dosa-dosanya terdahulu.” (HR. Khamsah dan Ahmad). Hal inilah yang memberikan makna kepada kita bahwa Idul Fitri bukan dimaknai untuk berpesta-pesta. Kemudian disamping memberikan ketakwaan kita kepada Allah Swt, Idul Fitri juga mampu mengampunkan dosa-dosa kita kepada bapak-ibu, sanak keluarga, dan tetangga kita melalui tali silatuhrahmi dengan saling meminta dan memberi maaf. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Hadis bahwa, “Dosa-dosa terhadap sesama manusia akan mendapat ampunan jika telah dibersihkan (dimintakan maaf) diantara sesama manusia sendiri. Jadi dengan silaturahim dan saling minta maaf pendakian kita ke awal kesucian akan lebih mudah dicapai”.


Lebih jauh lagi Sunan Bonang pernah mengatakan bahwa, “Idul Fitri adalah hari kesucian yang dilambangkan dengan masakan ketupat atau kupat, yakni beras putih yang dibungkus dengan janur (daun kelapa)”. Katanya lambang itu diartikan sebagai hati yang putih bersih (jatining nur) yang dimiliki orang yang kembali suci. Kupat itu sendiri bisa diartikan sebagai “laku sing papat” (empat keadaan), yaitu lebar, lebur, luber, dan labur. Lebar itu artinya selesai kewajiban puasanya, Lebur berarti habis dosa-dosanya, Luber berarti melimpah pahalanya, dan Labur berarti bercahaya indah ceria wajahnya. Orang yang benar-benar kembali suci, Idul Fitri tentulah bisa menghabiskan (lebar) puasanya dengan sempurna sehingga habis (lebur) dosa-dosa masa lalunya, bahkan melimpah (luber) pahala dan amal baiknya, serta bersinar cerah (labur) wajahnya.


Ramadhan sebagai Transformasi Diri


Terlepas dari suka cita di hari raya Idul Fitri, bagi sebagian kalangan yang menunaikan ibadah puasa di bulan ramadhan dengan benar, penuh iman, dan kesabaran pastinya kita sangat sedih meninggalkan bulan yang penuh rahmat dengan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an tersebut. Wajar saja kita merasa rindu untuk kembali ke bulan ramadhan lagi, sebab pada bulan ramadhan tersebut kita telah dilatih serta dikekang oleh Allah Swt untuk menjadi pribadi yang penuh kesabaran, ikhlas, disiplin, dan mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.


Pada bulan ramadhan kita dituntut untuk senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menahan lapar dan haus, juga bersabar dalam hal menjaga hal-hal yang membatalkan puasa kita seperti pandangan, perkataan, serta perilaku kita yang pada bulan-bulan lainnya acapkali sulit untuk kita jaga dengan baik. Kemudian pada bulan ramadhan juga kita dilatih untuk menjadi pribadi yang benar-benar ikhlas karena Allah Swt, sebab tanpa benar-benar ikhlas maka kita akan kesulitan dalam menjalankan ibadah puasa.


Lalu dengan berpuasa kita dapat menerapkan pola disiplin seperti dalam hal mengkomsumsi makanan dan minuman yang telah disajikan pada saat sahur maupun berbuka puasa. Saat sahur maupun berbuka puasa kita dianjurkan untuk mengkomsumsi makanan dengan asupan gizi yang memadai, hal ini dimaksudkan agar kita dapat menjalankan aktifitas sehari-hari tanpa meninggalkan kewajiban ibadah kita. Hal yang terpenting adalah pola makan yang positif dengan mutu lebih baik dalam jumlah yang lebih sedikit. Dalam berdisiplin tidak hanya untuk makanan dan minuman, tapi juga dalam hal beribadah seperti melaksanakan sholat fardu yang mana harus kita tunaikan dengan tepat waktu dan berjama’ah.


Disamping dapat menggembleng kita menjadi pribadi yang sabar, ikhlas, serta disiplin, ramadhan juga dapat mengajarkan kita untuk mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Tidak anyal lagi bahwa puasa juga diperuntukkan agar kita dapat merasakan kepedihan dan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung. Bahkan, dengan melaksanakan puasa pun kita belum benar-benar dapat merasakan seperti yang mereka rasakan setiap saatnya. Kita berpuasa hanya menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, setelah itu kita dapat menyantap makanan yang membuat perut kita kelabakan untuk menerimanya karena begitu banyak makanan yang ada di meja hidangan. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang beruntung tersebut?. Mereka tentunya tidak tau kapan mereka harus menyantap makanan dan minuman, disebabkan kesulitan perekonomian yang mereka alami.


Maka, disamping hari Raya Idul Fitri untuk merayakan kemenangan bagi orang-orang yang ketakwaannya kepada Allah Swt meningkat, juga pada sebelum lebaran tiba umat muslim yang telah mampu diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah yang mana diperuntukkan untuk orang-orang yang kurang mampu agar pada saat lebaran mereka juga merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita rasakan. Kini tibalah saatnya kita sambut hari Raya Idul Fitri dengan suasana kemenangan dan kebahagiaan bersama umat muslim diseluruh pelosok dunia. Semoga lebaran tahun ini kita benar-benar kembali suci dan dapat menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah Swt dan mempunyai kepekaan sosial. Semoga …!!!

Minggu, 12 Juli 2009

Kemenangan Mutlak SBY-Boediono: Membangun Pemerintahan Diktator?


Oleh: Andryan, SH


Meskipun hasil rekapitulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) terhadap pemilihan presiden (pilpres) 2009 belum final, akan tetapi hasil penghitungan cepat (Quick Count) dan juga penghitungaan sementara oleh KPU menempatkan pasangan dengan nomor urut 2 yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono masih bercokol di puncak klasemen. Bahkan, hasil perhitungan suara baik secara nasional maupun tiap daerah yang ada di Indonesia, pasangan SBY-Boediono menang mutlak atas seterunya.


Sebagaimana yang telah di prediksi sebelumnya yang dilakukan oleh lembaga survei atau iklan yang di usung oleh tim kampanye, SBY-Berbudi menang dengan 1 putaran. Sungguh inilah hasil yang dilakukan oleh rakyat sebagai konstetuen, meskipun banyak kalangan baik dari lawan politik maupun kalangan yang kontra dengan pemerintahan SBY menyebutkan pemilu 2009 kental dengan nuansa curang dan manipulasi suara. Tetapi itulah politik, kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan. Bisa di maklumi bagi kalangan yang tidak terima terhadap hasil pilpres tersebut, sebab mereka ada di pihak yang kalah dan sebagai hukum alam bahwa tidak ada seorang pun yang dengan ikhlas menerima kekalahannya.


Terlepas dari permasalahan dan konflik yang terjadi antara elit politik, kita sebagai rakyat telah dipertontonkan nuansa politik yang tidak mendidik dan cenderung lebih mengutamakan kekuasaan belaka di bandingkan dengan mengutamakan kepentingan rakyat. Hingga hari kedua setelah perhelatan akbar pilpres 2009, pasangan SBY-Boediono yang notabene telah memperoleh kemenangannya dengan satu putaran belum ditanggapi oleh lawan politiknya, baik capres Megawati maupun Jusuf Kalla (JK). Akan tetapi, JK yang masih menjabat sebagai wakil presiden dengan jiwa negarawannya menelepon SBY dan mengucapkan selamat atas kemenangannya. Bagaimana dengan Megawati? Tokoh yang satu ini masih saja dendam dengan sikap SBY yang ketika itu mengundurkan diri sebagai Menko Polkam pada masa pemerintahannya dan mencalonkan sebagai capres. Dalam masa kampanye rakyat juga telah dipertontonkan dengan pertebatan yang tidak mendidik dengan saling menyindir dan menjatuhkan antara satu sama lain. Sungguh beginikah sikap sebagai seorang negarawan?.


Apabila kita cermati pada pilpres Amerika Serikat yang juga baru saja menggelar pesta akbar demokrasi tahun 2008, pada saat kampanye baik Barack Obama yang merupakan capres Demokrat dengan lawan politik John McCain dari partai republik saling panas dalam perdebatan visi dan misi antara keduannya. Akan tetapi pada saat pemilihan presiden, rakyat AS telah memilih Barack Obama sebagai capres pilihan rakyat dan yang perlu diketahui oleh para politikus di Indonesia, pada saat hari itu juga Obama menggelar pidato kemenangannya yang disambut meriah oleh jutaan pendukungnya. Lantas bagaimana dengan sikap McCain? Tidak seperti yang terjadi di Indonesia, McCain juga menggelar pidato di depan para pendukungnya dengan mengucapkan “Obama Presidenku” lalu mengucapkan selamat kepada Obama sebagai pemenang capres pilihan rakyat. Inilah potret yang perlu politikus Indonesia untuk banyak belajar dari negeri paman sam tersebut.


Pemerintahan yang Kokoh


Terlepas dari hingar-bingar pilpres 2009, capres incambent SBY yang telah memenangkan hati rakyat di hadapkan dengan membangun sebuah kekuatan pemerintahan yang sangat kokoh bahkan menyerupai rezim orde baru. Bagaimana tidak, disamping menempatkannya sebagai capres terpilih oleh rakyat juga menempatkan partai politiknya yakni Demokrat sebagai partai pemenang pemilu 2009. Maka sudah barang tentu para kader demokrat banyak bercokol di gedung dewan sebagai anggota DPR RI masa bakti 2009-2014. Partai Demokrat meraih suara terbanyak (pemenang) dengan meraih suara nasional 21.703.137 (20,85) dan memperoleh 148 kursi DPR atau 26,43 persen dari keseluruhan kursi parlemen yang berjumlah 560 kursi.


Jika kita cermati juga dengan kedikdayaan partai demokrat yang merupakan partai polesan SBY, juga di ikuti oleh beberapa partai koalisi yang telah memenangkan capres Sby dan parpol tersebut telah lolos dari ambang batas perolehan suara nasional sebesar 2,5 % (parliamentary threshold) yakni, PKS 8.206.955 (7,88) suara dan 59 kursi (10,54 persen), PAN 6.254.580 (6,01) suara dan 42 kursi (7,50 persen), PPP 5.533.214 (5,32) suara dan 39 kursi (6,96 persen), PKB 5.146.122 (4,94) suara dan 26 kursi (4,64 persen). Dengan demikian apabila kita kalkulasikan bahwa perolehan kursi di senayan dengan basis dukungan kepada SBY mencapai 314 kursi. Sungguh jumlah perolehan kursi yang sangat besar dengan menempatkan lebih dari setengah kuota di gedung dewan. Melihat kenyataan ini, apakah lantas fungsi DPR sebagai pengawas (monitoring) pemerintah menjadi mandul, sebab baik partai Demokrat maupun partai koalisinya akan lebih pro terhadap pemerintahan SBY kelak.


Apabila fungsi DPR sebagai pengawas pemerintahan menjadi mandul atau tidak berfungsi, maka otomatis kekuasaan yang dibangun pemerintahan SBY menjadi sangat luas dan kokoh dari ancaman partai oposisi yang ingin mencoba menggulingkan pemerintahannya. Sebagimana yang kita ketahui juga, bahwa apabila presiden ingin dilengserkan dari kedudukannya, maka usul pemberhentiannya dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat DPR bahwa presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, menyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela atau pendapat presiden tidak memenuhi syarat sebagai presiden. Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR.


Lalu dengan ketentuan tersebut, maka capres terpilih SBY kelak tidak akan mampu untuk digulingkan. Sebab telah disinggung sebelumnya bahwa dukungan terhadap SBY di DPR telah melebihi setengah jumlah anggota DPR. Jadi tidak ada cara apapun untuk menjatuhkan kursi presiden apabila tidak adanya dukungan 2/3 dari jumlah kursi di DPR untuk menjatuhkan presiden. Melihat fakta tersebut, apakah pemerintahan SBY kelak dapat menjadi diktator dan bersikap arogan?. Hanya waktu yang akan dapat menjawab tindakan tersebut.


Sistem Pemerintahan


Sistem pemerintahan berkaitan berkaitan dengan pengertian penyelenggaraan pemerintahan eksekutif dalam hubungannya dengan legislatif. Sistem pemerintahan yang dikenal dunia saat ini secara garis besar di bedakan dalam tiga macam yakni, sistem pemerintahan presidensiil, sistem pemerintahan parlementer, dan sistem campuran. Dalam sistem pemerintahan presidensiil merupakan sistem pemerintahan yang terpusat kepada jabatan presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala negara. Sedangkan dalam sistem pemerintahan parlementer itu dibedakan dan dipisahkan satu sama lain. kedua jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan itu pada hakikatnya, sama-sama merupakan cabang kekuasaan eksekutif. Sementara itu, dalam sistem campuran, unsur-unsur kedua sistem itu tercampur di mana ciri-ciri kedua sistem tersebut sama-sama dianut. (Jimly Ashhidiqie, Pokok-Pokok HTN).


Melihat penjabaran antara beberapa sistem pemerintahan tersebut, Negara Republik Indonesia pada saat ini menganut sistem pemerintahan presidensiil yang menempatkan presiden sebagai kepala pemerintahan dan juga sebagai kepala negara. Akan tetapi pada kenyataan pelaksanaannya, kita menganut sistem presidensiil dengan bergaya sistem parlementer. Mengapa demikian? Sebab pada masa awal pemerintahan SBY, DPR yang melaksanakan fungsi pengawasan dapat dengan leluasa dan agrogan dengan memanggil dan memeriksa para anggota kabinet maupun presiden berkali-kali yang menurut dugaan tidak menjalankan pemerintahan dengan baik. Lalu, apakah fungsi DPR sebagai pengawas sebagaimana yang telah dijalankan pada periode sebelumnya dapat berjalan secara efektif pada periode mendatang? Marilah kita tunggu..!!