Jumat, 15 Mei 2009

Mengapa SBY Pilih Boediono?


Oleh: Andryan, SH

Desas-desus siapa yang bakal mendampingi capres dari Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono akhirnya terjawab sudah. Menurut SBY, Boediono yang sekarang ini menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) merupakan kriteria yang paling pas dan tepat mendampinginya untuk maju sebagai pasangan satu paket capres-cawapres untuk periode 2009-2014. Lalu dengan terpilihnya Boediono sebagai cawapres SBY tentu banyak yang bertanya-tanya, sebab seperti yang telah diberitakan oleh sejumlah media, para cawapres yang masuk dalam kantong SBY mencapai 19 orang yang terdiri baik dari kalangan partai maupun kalangan di luar partai politik dan kenapa hati SBY tertambat dalam sesosok Boediono.


Boediono merupakan cawapres yang namanya baru muncul ketika nama-nama beken untuk mendampingi SBY telah banyak yang bermunculan. Sebut saja cawapres dari kalangan parpol antara lain, Hidayat Nur Wahid (PKS), Hatta Rajasa (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB), Akbar Tanjung, Agung Laksono (Golkar). Sedangkan cawapres dari kalangan non parpol antara lain, Sri Mulyani Indrawati, Jimly Ashiddiqie, hingga nama yang kemudian baru muncul yakni Boediono. Dari sekian nama beken yang tidak diragukan lagi kapasitasnya tersebut, nama terakhir yang justru terpilih menjadi cawapres 2009 dari kalangan non parpol.


Keputusan SBY tersebut mengundang banyak pertanyaan dari partai koalisinya. Beberapa parpol koalisi tersebut, PKS yang paling terhentak mendengar terpilihnya Boediono mendampingi SBY. Sebab nama Boediono belum banyak dibicarakan dalam pertemuan dengan parpol koalisi dan baru muncul ketika menjelang pendaftaran capres-cawapres telah dibuka oleh KPU. Kemudian sosok Boediono yang dari kalangan non parpol koalisi menyisihkan nama-nama beken lainnya terutama nama-nama dari kalangan parpol koalisi, dianggap sebagai sikap yang keliru dan dapat membahayakan di pemerintahan kelak.


Faktor Memilih Boediono


Akan tetapi terlepas dari hawa panas menjelang putaran pilpres 2009, dalam benak kita tertanam pertanyaan yang mendasar yakni, mengapa SBY memilih Boediono?. Pertanyaan ini langsung timbul ketika SBY mengumumkan Boediono sebagai pendampingnya dalam pilpres mendatang. Kemudian banyak masyarakat yang belum mengenal lebih jauh terhadap sosok Boediono dan Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu legislatif 2009 yang mana ketua dewan pembinanya maju sebagai capres, tentu masyarakat pun banyak yang memandang stikma yang beranggapan bahwa siapapun yang mendampingi SBY pasti akan menang juga dalam pilpres 2009. Melihat terpilihnya Boediono tersebut, maka kita dapat menganalisis ada beberapa faktor mengapa SBY memilih Boediono.


Faktor pertama, Memajukan perekonomian negara. Boediono merupakan ekonom Indonesia yang tidak diragukan lagi kapasitasnya di negeri ini. Banyak bidang yang dipegang Boediono dan hasilnya sangat memuaskan. Boediono dahulu pernah menjabat menteri keuangan pada masa pemerintahan Megawati, kemudian pada pemerintahan SBY Boediono dipercaya menduduki jabatan strategis lainnya yakni Menteri Koordinasi Perekonomian. Yang mana ketika itu perekonomian Indonesia sedang carut marutnya, kemudian saat adanya perombakan kabinet SBY mengganti menko perekonomian yang ketika itu dipegang oleh Aburizal Bakrie dan alhasil ketika Boediono menjabat, perekonomian kita secara perlahan-lahan telah membaik dan menemukan titik terang ke arah yang semakin baik.


Saat perekonomian sedang naik, Bank Indonesia mengalami kegentingan ketika Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengalami kasus hukum terkait dana BLBI. Boediono pun lantas ditunjuk sebagai Gubernur BI lewat Fit and Profer Test di DPR. Alhasil, BI secara perlahan-lahan juga telah menunjukkan kinerja yang lebih baik, hal ini ditandai dengan menurunkan BI Rate hingga ke titik rendah untuk menumbuhkan kembali perekonomian kita saat krisis global melanda dunia.


Perbaikkan dan peningkatan sistem perekonomian merupakan salah satu agenda yang prioritas dalam pemerintahan SBY, sebab Indonesia dahulu telah merasakan krisis ekonomi yang cukup berat dan alhasil berakibat terhadap krisis multi dimensi. Apabila perekonomian suatu negara baik dan meningkat, maka kesejahteraan masyarakat pun akan segera tercapai. Meningkatkan daya beli masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya adalah salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan perekonomian negara. Maka dengan terpilihnya ekonom Boediono sebagai cawapres untuk mendampingi SBY diyakini jikalau terpilih kelak akan dapat meningkatkan perekonomian kita.


Faktor kedua yakni sebagai cawapres penengah koalisi, Boediono merupakan cawapres dari kalangan non parpol, yang mana keputusan SBY memilih Boediono dirasakan tepat sebab Boediono merupakan jalan tengah dari kandidat cawapres lainnya yang banyak berasal dari kalangan parpol koalisi kubu Demokrat. Sebut saja Hidayat Nur wahid (PKS), Hatta Rajasa (PAN), dan Muhaimin Iskandar (PKB). Jikalau SBY memilih salah satu dari tiga kandidat parpol koalisi tersebut, maka akan dapat berakibat perpecahan koalisi, karena kandidat yang lain pasti akan kecewa dan menilai SBY terlalu memihak terhadap salah satu parpol koalisi.


Faktor ketiga, agar tidak adanya tekanan politis. Jabatan lembaga negara adalah jabatan yang terlalu identik dengan jabatan politis. Salah satunya adalah dalam tubuh lembaga eksekutif (pemerintahan). Capres-cawapres yang terpilih kelak pasti dalam menentukan kabinetnya akan bermuatan politis, sebab mereka diusung oleh beberapa parpol koalisi yang mana tiap parpol tersebut memesan jatah kursi kabinet. Jika cawapres yang terpilih kelak diusung berasal dari kalangan non parpol, capres terpilih pun akan sangat leluasa menjalankan tugas dan fungsinya karena tidak adanya tekanan politis dalam leluasa menentukan arah kebijakan yang dijalankan pemerintahan kelak.


Faktor keempat, menghilangkan anggapan pemerintahan diktator dan terkesan tirani. Partai Demokrat yang merupakan parpol pemenang pemilu legislatif sudah pasti menguasai kursi di parlemen. Apabila SBY kembali duduk sebagai Presiden, maka sudah barang tentu pengawasan di tubuh parlemen terhadap pemerintahan SBY terkesan lemah dan tidak berdaya. Apalagi jikalau ditambah cawapres yang mendampinginya berasal dari kalangan parpol, kesan yang tersirat bahwa SBY ingin membangun kekuatannya untuk menjadikan pemerintahan yang diktator dan bergaya tirani. Oleh sebab itu, maka keputusan SBY tersebut sangatlah bagus untuk menjalin pemerintahan yang bersih dan jauh dari sifat politis belaka.


Persaingan makin sengit


Terlepas dari anggapan miring dari berbagai golongan terhadap terpilihnya Boediono sebagai cawapres oleh SBY, maka kita haruslah mendukung keputusan SBY tersebut. sebab, apabila cawapres yang mendampingi SBY berasal dari kalangan parpol, maka masyarakat akan semakin muak, monoton dan golput pun akan semakin ramai. Pada pilpres 2004 saja ada cawapres yang maju berasal dari kalangan non parpol, seperti Sawaluddin Wahid yang ketika itu mendampingi capres Wiranto dan Hasyim Mujadi yang mendampingi capres Megawati. Hal inilah yang harus kita sikapi bersama secara bijak dan harus menghilangkan kesan bahwa pemilihan umum atau pesta demokrasi di republik ini hanya khusus terhadap orang-orang yang bermain di partai politik, dan terlebih lagi masyarakat pastinya akan memandang partai politik hanya ingin mengejar jabatan dan kedudukan belaka tanpa benar-benar mencari orang yang pas memenuhi kriteria untuk memimpin negeri ini.


Sebelum SBY mengumumkan cawapresnya, jauh-jauh hari pasangan yang lain telah siap untuk bertarung yakni pasangan capres Jusuf Kalla dan cawapres Wiranto. Mereka bahkan telah mensosialisasikan dirinya kepada tokoh-tokoh terkemuka dan masyarakat. Baru kemudian muncul secara mengejutkan pasangan capres SBY dengan cawapres Boediono. Lalu kubu PDI-P yang mengusung Megawati sebagai capres telah bakal dipastikan menggandeng ketua dewan pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai cawapres mendampingi Megawati. Nampaknya tiga kandidat pasangan inilah yang bakal maju untuk bersaing memimpin negeri ini pada Pemilihan Presiden 2009.

Jumat, 26 Desember 2008

PROBLEM KEMACETAN KOTA MEDAN BELUM USAI

Oleh: Andryan, SH


“Bekerja dan bersama-sama untuk kemajuan kota medan menuju kota metropolitan”.

Itulah petikan dari slogan kota medan yang telah diusung pemerintah daerah kota medan diawal tahun 2000. Slogan itu juga yang menandakan bahwa pemerintah kota medan sangat gencar untuk memajukan kota medan menuju kota metropolitan yang pada saat itu statusnya masih dipegang oleh Ibu Kota DKI Jakarta.

Kota medan sangat mendukung untuk disandang sebagai kota metropolitan, hal ini tidak terlepas dari beberapa segi yakni, cagar kebuadayaan Kesultanan Deli yang sangat memikat dan mempesona, kemudian dilihat dari sudut letak geografis yang menempati kota medan sebagai kota terbesar (baca:terluas) setelah Jakarta dan Surabaya. Dalam segi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pun kota medan tidak ketinggalan maju dibandingkan dengan daeraha-daerah di pulau jawa yang telah lama berkembang pesat, hal ini di tandai dengan banyak mengantarkan pelajar-pelajar daerah ini dalam mencapai prestasi baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Seperti layaknya kota metropolitan dengan banyaknya jumlah penduduk mau tidak mau akan berpengaruh terhadap roda perekonomian kota, diantaranya yakni dapat mengakibatkan semakin sumpeknya suatu kota apabila kemacetan lalu litas (lalin) tidak dapat teratasi. Kota Medan sebagai kota terbesar ke-3 di Indoensia memiliki cukup banyak populasi jumlah penduduk yang dalam kesehariannya tinggal dan hidup di Medan. Bahkan, dalam Data BPS penduduk kota medan sampai tahun 2008 berkisar 2.889.070 Jiwa.

Kemudian dalam hal jumlah kendaraan di Sumut mencapai 2.260.650 unit yang bergerak setiap harinya terlebih lagi bus angkutan umum perlu disurvei layak atau tidak armada itu bergerak dalam pelayanan umum di jalan,belum ada.Dalam hal ini polisi lalu lintas sebagai aktor dalam menangani kemacetan lalu lintas tidak dapat menertibkan hal itu semuanya hanya lewat tilang, apalagi frekwensi kenaikan kendaraan rata-rata 13,46 persen setiap tahun tidak diimbangi dari sarana-prasarana terlebih kesadaran berlalulintas yang masih kurang dari masyarakat. Jumlah kendaraan roda dua beroperasi di jalan mencapai 90%, roda empat hanya 10% sehingga diharapkan pengendara roda dua menghidupkan lampu di siang hari karena gerakannya lebih cepat dan mudah menyalip.

Hal ini tidak heran bahwa kemacetan lalu lintas di medan pada tahun 2010 atau lima tahun ke depan akan sama dengan kemacetan di DKI Jakarta yang sudah tidak asing lagi ditelingga kita bahwa Pemerintah Daerah DKI Jakarta sangat gentar dalam mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas, bahkan dalam hal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta mengentasan kemacetan lalulintas jadi topik serta target yang diusung oleh banyak kandidat Calon Kepala Daerah apabila ia terpilih. Pengentasan kemacetan lalulintas di DKI Jakarta telah sejak lama dilakukan oleh Pemerintah Daerah, yakni mulai dari penerapan jalur 3 in 1 di jalan protokol, pembuatan arena Bus Way, sampai pada saat-saat ini yakni pemberlakuan jam masuk sekolah pada pukul 6.30 pagi.

Setidaknya Pemerintah Kota Medan haruslah berkaca pada permasalahan kemacetan lalu lintas seperti DKI Jakarta. Tidak banyak yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Medan saat ini dalam mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas, bahkan Pemerintah Daerah sepertinya tidak peduli terhadap kemacetan lalu lintas di kota medan. Kemacetan lalu lintas di medan dapat di lihat dari beberapa aspek, yang pertama yakni badan jalan yang tidak layak untuk ukuran kota sebesar medan. Apabila kita melintas jalan di perkotaan bahwa jarak antara bangunan seperti gedung, rumah, dan toko di pinggir badan jalan sangatlah dekat bahkan tidak ada jarak sedikitpun hal inilah yang dipakai pengunjung yang ingin ke toko atau gedung-gedung tersebut di jalan perkotaan untuk memakirkan kendaraan mereka. Badan jalan yang sudah sedemikian sempit ditambah lagi oleh pengunjung yang memakirkan kendaraannya akan semakin membuat para pengguna jalan tidak dapat leluasa melintas di jalanan.

Kemudian aspek yang kedua, selain badan jalan yang digunakan untur parkir kendaraan, juga trotoar umumnya digunakan untuk berjualan (warung) dan kesadaran masyarakat belum sepenuhnya sehingga timbul kemacetan akibat salah fungsi dari trotoar tersebut. Sementara bila di luar negeri trotoar ada tiga baris, ada untuk pejalan kaki, untuk orang cacat dan untuk warga yang bersepeda. Trotoar sangat memiliki fungsi yang sangat penting dalam suasana perkotaan seperi kota sebesar Medan, hal ini agar tidak terganggunya para pejalan kaki yang ingin meningmati suasana kota. Apabila trotoar disalahgunakan sebagai lahan berjualan bagi orang yang tidak mempunyai kesadaran dan kepedulian akan merusak keindahan kota dan pasti tentunya akan semakin membuat kemacetan sebab pasti banyak kendaraan yang berhenti apabila ingin membeli sesuatu yang tidak pada tempatnya tersebut.

Selain itu dalam aspek ketiga, trayek bus dan angkutan kota (angkot) di mana sopir belum punya kesadaran untuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada terminal yang ditentukan. Para sopir angkutan kota sangat egois dalam berkendaraan dan menaikan serta menurunkan penumpang sampai pada tengah-tenmgah badan jalan, hal ini disamping mendatangkan bahaya bagi penumpang yang turun juga sangat menzholimi para pengguna jalan yang tiba-tiba berhenti akan mencelakakan kendaraan yang melintas dan dapat menimbulkan kematian. Kemudian aparat Dishub yang belum siap menegakkan peraturan terhadap bus umum yang nakal tersebut agar ditindak untuk disiplin dan diharapkan terminal dibenahi agar tampak asri.

Dalam hal aspek keempat penyebab kemacetan lalu lintas Kota Medan, yakni bnruknya sarana dan prasarana seperi jalanan yang berlubang dimana-mana. Jalanan yang berlubang tentunya mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kemacetan lalu lintas, sebab para pengguna kendaraan yang melintas dengan adanya lubang didepannya tentu akan menyelip untuk menghindari lubang tersebut dan yang sangat perlu diperhatikan pemerintah kota yakni apabila turun hujan maka jalanan yang berlubang tersebut akan dapat mencelakakan parapengguna jalan. Pembenahan jalanan yang berlubang tidak cukup hanya dengan menambal pada bagaian jalanan yang berlubangsebab hal ini tentunya hanya bersifat sementara yang sewaktu-waktu pasti akan kembali berlubang.

Aspek yang kelima tentunya kesadaran masyarakat pengguna jalan yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Pengguna jalan hanya mau mematuhi tata tertib lalu lintas apabila ada aparat polisi lalu lintas yang berjaga. Belum lagi apabila terjadi pemadaman aliran listrik yang tentu akan berakibat terhadap semberawutnya persimpangan lalu lintas, kemudian apabila ada perlintasan kereta api tetap saja ada kendaraan yang menyelinap masuk melewati batas garis, hal ini tentu sangat mengganggu pengguna jalan yang lain yang akan dapat berakibat fatal. Tertib dalam berkendaraan dan tidak saling mementingkan diri sendiri tentu sangat diharapkan oleh setiap pengguna jalan agar lalu lintas dapat kembali lancar.

Solusi Kemacetan

Dalam mengatasi kemacetan lalu lintas di Kota Medan, pihak pemerintah daerah serta aparat satuan kepolisian lalu lintas di Kota Medan haruslah berkaca pada daerah yang terlebih dahulu mengalami kemacetan yang sukup pesat seperti DKI Jakarta.kedua pihak yang cukup bertanggung jawab tersebut harus sama-sama dan bekerja sama dalam memberikan upaya-upaya menngulangi kemacetan. Penerapan jalur 3 in 1 untuk kendaraan roda empat serta 2 in 1 untuk roda dua di jalur tertentu sangat efesien dilakukan, sebab hal ini akan mengurangi jumlah kendaraan yang melintas. Akan tetapi seperti di DKI Jakarta yang menerapkan jalur 3 in 1, permasalahan akan kembali timbul dengan maraknya para joki yang menawarkan jasanya. Kemacetan di Kota Medan dalam kesehariannya terjadi dalam waktu tiga tingkatan jam sibuk, yakni pada pukul 07.30 pada saat anak sekolah berangkat sekolah dan karyawan pemerintah dan swasta berangkat kerja, pukul 12.00 pada saat para karyawan pemerintah dan swasta istirahat siang dan beberapa saat kemudia anak sekolah pulang., dan pukul 17.00 pada saat karyawan pemerintah dan swasta pulang bekerja.kemacetan dalam tiga waktu itupun tidak dapat terelakan.

Beberapa sekolah yang ada di Kota Medan pada umumnya berada di pinggir jalan perkotaan yang tentunya akan sangat rawan terhadap kemacetan lalu lintas. Pemberlakuan jam masuk sekolah yang lebih dini pada pukul 6.30 seperti yang telah diterapkan di Jakarta akan sangat membantu mengurangi kemacetan lalu lintas. Dengan demikian pada pagi hari tidak terjadi penumpukan kendaraan di perkotaan yang disebabkan oleh berangkat secara bersamaan anak sekolah dan pekerja pemerintah dan swasta. Apabila pemberlakuan jam masuk sekolah lebih dini yakni waktu yang realistis pada pukul 07.00 dapat diterapkan di Kota Medan, maka jalan-jalan di kota medan pada pukul 08.00 pagi akan kembali lenggang.

Kamis, 20 November 2008

Krisis Ekonomi Global: Menuju Indonesia dalam Waktu Dekat Ini?

Oleh: Andryan, SH

Dampak yang dialami oleh masyarakat Internasional khususnya Amerika Serikat akibat terjadinya virus krisis ekonomi global nampaknya mau tidak mau pasti juga akan dirasakan oleh bangsa Indonesia walaupun tidak dalam waktu yang dekat ini. Pernyataan dari berbagai pengamat ekonomi, perbankan maupun para menteri Indonesia Bersatu yang mengatakan bahwa Indonesia tidak akan terpengaruh terhadap krisis ekonomi global sangatlah mengada-ada sebab secara tidak langsung Indonesia sangatlah bergantung kepada Amerika Serikat di berbagai sektor riil maupun non riil. Krisis ekonomi global itu sendiri berasal dari ranah Amerika Serikat yakni terjadinya kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang pada akhirnya membuat para investor kebakaran jenggot dan juga membuat beberapa perusahaan AS yang selama ini merupakan salah satu perusahaan bonafit di dunia Lemann Brother jatuh bangkut.

Sudah sejak lama Indonesia sangat bergantung terhadap Amerika Serikat khususnya sejak awal pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Jadi menanggapi pemberitaan dari berbagai pejabat maupun pengamat perekonomian Indonesia bahwa Indonesia tidak akan terkena dampak krisis ekonomi global yang telah melanda negara diberbagai penjuru dunia sangatlah mustahil walaupun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi.

Secara praktis Indonesia secara perlahan telah terkena virus krisis ekonomi global, hal itu dirasakan oleh berbagai perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalaminya, dan oleh karenanya para pengusaha mau tidak mau akan terus mem-PHK kan para karyawan-karyawan perusahaannya.Bahkan,Menakertrans Erman Suparno mengatakan sejumlah perusahaan meminta izin untuk merumahkan 13.000 pekerjanya karena dampak krisis global (Harian Analisa, 19 November 2008).

Walaupun untuk menghindari dampak dari krisis ekonomi global yakni terjadinya PHK oleh para pengusaha, pemerintah telah membuat payung hukum dengan adanya Surat Keputusan Bersama (SKN) 4 Menteri. Tapi apakah dengan adanya SKB 4 Menteri telah benar-benar menjamin untuk menyelamatkan hak pekerja dari PHK massal? Hal ini tentunya juga harus sangat dipikirkan secara matang oleh pemerintah sebab apabila kiris ekonomi global telah melanda negeri Indonesia, dan para pengusaha-pengusaha dari berbagai perusahaan telah tidak mampu untuk membendung dan pada akhirnya PHK massal pun terjadi. Boleh jadi krisis ekonomi global yang apabila melanda negeri Indonesia pada saat ini, dampaknya akan sangat terasa bahkan dapat melebihi krisis ekonomi asia yang melanda Indonesia tahun 1997 silam.

Terjadinya PHK massal tentunya akan sangat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, disamping akan menambah jumlah angka pengangguran dan juga pastinya inflasi negara akan sulit dibendung. Hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah pada saat ini adalah jangan terlalu berangan-angan Indonesia akan terhindar dari dampak krisis ekonomi global. Selain itu, nilai kurs rupiah terhadap dollar sangat melemah drastis sampai menunjukkan nilai rupiah pada angka Rp.11.850. Bahkan dari pada itu Menteri Keuangan mengimbau agar masyarakat rumah tangga tidak memegang dolar AS kecuali mempunyai tanggungan yang bersekolah di luar negeri (Halian Analisa, 20 November 2008). Pernyataan tersebut tidak lain untuk menaikkan nilai kurs rupiah terhadap dolaar AS. Hal ini sangat berbahaya sebab masyarakat Indonesia nampaknya telah tidak untuk memikirkan rasa nasionalismenya dan hanya memikirkan untuk kelangsungan hidupnya.

Memang pada saat sekarang ini keadaan semakin tidak menentu selain adanya krisis ekonomi global yang berasal dari AS, masyarakat Internasional juga diselimuti oleh rasa takut terhadap kelangsungan hidupnya, hal ini disebabkan oleh terjadinya pemanasan global (global warming). Sebelumnya kita juga telah dirisaukan oleh harga minyak dunia yang semakin nail drastis samai menembus angka 200 Dollar AS per Barrel, walaupun pada akhirnya juga turun secara drastis pada angka 55 Dollar AS per Barrel dikarenakan menurunnya permintaan minyak mentah dunia. Hal yang sangat mengkwatirkan akibat terjadinya invasi oleh sekutu Amerika Serikat terhadap negara-negara penghasil minyak mentah dunia.

Kebijakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani yang telah memberikan kucuran dana segar untuk kredir Usaha Kecil Menengah (UKM) sangat disambut positif oleh berbagai kalangan pengamat dan politikus. Kebijakan tersebut telah menumbuhkan dan membangkitkan bidang-bidang perekonomian negara, sebab apabila memang telah terjadinya PHK massal maka masyarakat akan beralih profesi menjadi pedagang, hal yang sangat positif dibandingkan menambah jumlah angka pengangguran yang pada akhirnya juga akan menumbuhkan serta meningkatkan angka kriminalisme di Indonesia.

Berbagai negara-negara di dunia telah berupaya untuk menyelamatkan negaranya dari ancaman krisis ekonomi global bahkan pemimpin-pemimpin dunia yang tergabung dalam KTT G20 telah melakukan pertemuan untuk membahas dan memberikan solusi terhadap penanganan krisis ekonomi global tersebut. Ada sebagian negara yang terkena efek krisis ekonomi global telah meminjam sejumlah dana dari lembaga penyalur dana Internasional seperti IMF dan ADB. Akan tetapi belajar dari pengalaman yang menimpa Indonesia pada tahun 1997 ketika Indonesia terkena krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di asia, Indonesia ketika itu sangat bernafsu untuk memulihkan negara dari krisis ekonomi dan kemudian meminjam sejumlah dana dai lembaga penyalur dana IMF untuk membantu menghidupkan kembali sistem perekonomiannya.

Pada akhirnya, sejak awal tahun 2000an dimana sebagian beberapa negara asia yang ketika itu juga terkena krisis ekonomi, mampu untuk melepaskan negaranya dari krisis ekonomi. Sedangkan Indonesia jangankan untuk memulih perekonomiannya, bahkan krisis makin meranbah ke bidang-bidang lainnya seperti krisis bidang politik, hukum, sosial-budaya, sampai pada krisis kepercayaan publik. Hal ini dapat juga diakibatkan karena Indonesia meminjam sejumlah dana yang cukup besar dari IMF dan selama bertahun-tahun masih berkutat terhadap utang luar negeri khususnya IMF. Berbeda dengan negara Malaysia yang ketika itu juga merasakan krisis ekonomi asia, tidak menerima tawaran pinjaman dana dari lembaga luar negeri seperti IMF, dan pada akhirnya Malaysia lah yang dapat keluar dengan cepat dari krisis ekonomi asia pada saat itu.

Mengenai lembaga penyalur dana seperti IMF, beberapa pemimpin negara dunia seperti presiden AS George W.Bush menilai pengorganisasian IMF telah tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman menghadapi beberapa persoalan dunia seperti membantu memberikan sejumlah dana bagi negara yang mengalami krisis ekonomi global pada saat itu. Memang IMF bukanlah hal yang tepat untuk negara yang diterpa krisis finasial walaupun dapat memberikan pinjaman sejumlah dana, melainkan juga IMF dapat memperburuk perekonomian suatu negara apabila telah menerima tawaran untuk pinjaman dana.

Sudah saatnya negara Indonesia khususnya para pejabat dan pemimpin bangsa memikirkan bagaimana mencari alternatif untuk mengatasi krisis ekonomi global yang dalam waktu dekat akan menimpa negara kita. Menyediakan payung sebelum hujan sangat lebih baik dan hal yang sangat berharga bagi para pemimpin bangsa adalah belajar dari suatu pengalaman di masa lampau yang pernah menimpa Indonesia 10 tahun yang lalu. Jangan sampai krisis ekonomi global saat ini akan memperburuk perekonomian Indonesia yang secara perlahan-lahan telah kita capai untuk menumbuhkannya kembali.